Hingga kini, angklung tertua yang pernah di buat itu diyakini berasal dari Banten. Di Baduy Jero, terdapat angklung baduy yang dimainkan dalam upacara Ngaseuk Pare yang digelar untuk menghormati Sang Hyang Asri atau Dewi Sri sebagai dewi pertanian dan kesuburan. Di Baduy Panamping, selain dimainkan dalam upacara adat, angklung baduy dimainkan untuk tujuan hiburan. Dalam fungsi ini, angklung baduy dimodifikasi dengan tambahan tiga buah dog-dog lojor, bedug, dan bedug lojor.
Keterangan sejarah tertua mengenai angklung adalah dipergunakannya waditra ini sebagai musik perang Kerajaan Sunda dalam kancah Perang Bubat tahun 1357. Selama perang terjadi, angklung menyebar hingga ke Jawa Timur. Dikisahkan dalam Negarakertagama, saat Hayam Wuruk berkunjung ke Jawa Timur tahun 1359, ia disambut alunan angklung yang dimainkan rakyat. Angklung lalu menyebar ke Banyuwangi, terlihat dengan adanya angklung carok, hingga ke Bali, dengan adanya cumang kirang, alat musik logam yang identik dengan angklung.
Pada abad ke-17, Sultan Ageng yang mencintai kesenian, kerap menggelar kesenian angklung di Keraton Banten. Para pemainnya berasal dari Banten dan Bali. Pada masa ini, angklung menyebar hingga ke Kalimantan dan Sumatra. Saat Belanda menyerang Banten, Sultan Ageng mengerahkan rakyatnya untuk melawan. Untuk membakar semangat juang, angklung digunakan sebagai musik perang. Lagu perang yang terkenal berjudul Balagajur. Sayang, perlawanan itu dipatahkan dan Banten takluk pada Belanda. Sejak itu, angklung dilarang dimainkan karena suaranya yang dimainkan bersama-sama dinilai sakral dan dapat membangkitkan semangat perlawanan rakyat.
Larangan itu tidak membuat rakyat Sunda meninggalkan angklung. Keteguhan memegang adat membuat angklung dipertahankan, bahkan dikembangkan. Di Bungko, Cirebon, misalnya, terdapat angklung bungko yang dibuat Syeh Bentong atau Ki Gede Bungko, 600 tahun yang lalu. Kesenian ini dimainkan dalam upacara Nadran, Ngunjung ka Gunung Jati, Sedekah Bumi, dan dilestarikan sebagai kesenian pendukung penyebaran agama Islam. Jenis lainnya adalah angklung buncis yang dibuat Pak Bonce pada 1759 di Arjasari dan dimainkan dalam upacara Nginebkeun Pare, Helaran, serta Seren Taun. Angklung buncis menyebar ke Ciwidey, Ujungberung, dan Garut. Di Cipining, Bogor, terdapat angklung gubrag yang diceritakan di atas.
Perkembangan angklung yang paling besar dilakukan Daeng Soetigna pada 1938. Dengan bantuan gurunya, Pak Djaja, Daeng membuat angklung berskala tangga nada diatonis. Angklungnya itu dikenal sebagai angklung daeng. Ia memperkenalkan kreasinya sebagai alat pembina Pramuka. Pada 1947, grup seni angklung Daeng mementaskan angklung daeng dalam acara kesenian Perundingan Linggajati.
Pada 1950, Daeng pindah ke Bandung. Di kota ini ia membentuk grup seni angklung bersama murid-muridnya seperti Agam Ngadimin, Hidayat Winitasasmita, Opan Sopandi, Sanui Edia S., Yahya Erawan, Obby A.R. Wiramihardja, dan Udjo Ngalagena. Bersama grup angklungnya, Daeng dipercaya menggelar pertunjukan angklung dalam acara hiburan Konferensi Asia Afrika 1950. Event ini berhasil mengangkat angklung secara luas ke dunia internasional.
Selama tahun 1950-an gairah perkembangan angklung semakin menggelora. Banyak sekolah yang mulai memasukkan angklung sebagai mata pelajaran seni musik. Namun, minimnya persediaan angklung membuat penyebarannya tersendat. Salah satu murid Daeng, Udjo Ngalagena, lalu memutuskan merintis usaha pembuatan angklung.
Sejak 1958, Udjo membuat dan menyalurkan angklung ke sekolah-sekolah yang membutuhkan melalui sanggarnya yang ia namakan Saung Angklung Udjo. Di saungnya, selain mengajarkan angklung pentatonis dan diatonis, Udjo mengembangkan teknik permainan angklung berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda yang terdapat dalam kecapi. Kalau Daeng terkenal sebagai tokoh yang mengangklungkan piano, maka Udjo lalu terkenal sebagai tokoh yang mengangklungkan kecapi. Hingga kini, Saung Angklung Udjo terkenal sebagai sentra budaya tempat memproduksi alat musik bambu, pelatihan angklung, serta pergelaran seni pertunjukan, dan pariwisata.
Suatu peristiwa bersejarah dalam perkembangan angklung adalah ditetapkannya angklung sebagai alat pendidikan musik nasional oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui SK. No. 082/1968 pada 23 Agustus 1968 atas dasar pemikiran terkandung sifat-sifat baik dalam permainan angklung seperti kerja sama, disiplin, keterampilan, tanggung jawab, dan olah rasa musikalitas. Pada 10 September 1968, Daeng menyerahkan angklung secara simbolis kepada Unicef sekaligus memperkenalkan moto pendidikan angklungnya yang terkenal dengan 5M, Mudah, Murah, Menarik, Mendidik, dan Massal. Daeng juga mengungkapkan cita-citanya agar angklung dikenal setiap bangsa sebagai musik pemersatu dan perdamaian dunia.
Kebudayaan adalah suatu proses, bukan saja proses yang berlangsung dalam suatu periode hidup manusia, melainkan proses yang terjadi dalam kehidupan manusia yang sambung-menyambung. Hasil dari proses kebudayaan adalah juga kebudayaan, sebagai kata benda. Karena itu ciri kebudayaan ada dua. Pertama, adalah penurunan kebudayaan dari satu generasi ke generasi seterusnya. Kedua adalah pemeliharaan warisan kebudayaan pada suatu genarasi dari generasi sebelumnya. Akumulasi dari kebudayaan-kebudayaan itu membentuk suatu tradisi. Cara manusia menerima warisan kebudayaan atau tradisi juga mempunyai ciri tertentu, yaitu kritis sehingga suatu generasi tidak begitu saja menerima warisan kebudayaan dari nenek moyangnya, melainkan dengan mengembangkannya lebih lanjut ke arah yang lebih baik. Karena itu salah satu ciri kebudayaan adalah sifatnya yang evaluatif, sebagaimana manusia mamandang alam semesta dan kondisi awal hidup yang disadarinya. Kebudayaan, karena itu bercorak progresif, yaitu senantianya berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik.
Selain diwariskan secara turun-temurun, manusia juga saling mempertukarkan kebudayaan. Berdasar ciri manusia yang mampu belajar dari yang lain, kebudayaan juga mengalami dialog untuk saling memahami dan mempelajari. Setelah saling melakukan evaluasi, maka terjadi proses pertukaran kebudayaan antar kelompok-kelompok masyarakat. Pertukaran kebudayaan inilah yang mendorong perkembangan kebudayaan. Walaupun demikian, suatu kelompok manusia juga mempunyai kecenderungan menutup diri tidak mau tahu dengan kebudayaan kelompok masyarakat lainnya.
kebudayaan= kebiasaan –> tradisi –> turun temurun –> warisan etnik
Nah kalau negara mengklaim suatu kebudayaan negara lain ada ga tradisinya?
kalau masalah hak paten itu sih akal2an hukum diatas kertas saja, misalnya angklung di klaim milik malaysia silakan saja sebab itu tak akan bertahan lama karena suatu kebudayaan mempunyai jiwa karena tradisinya…

